Discovery commerce, yaitu perdagangan yang dimulai dari konten digital seperti video pendek dan siaran langsung, bukan lagi eksperimen. Data semester I 2026 menunjukkan nilai transaksi fesyen di TikTok Shop by Tokopedia naik 70 persen, sementara jumlah kreator fesyen bertambah 74 persen. Bagi UMKM, ini berarti peluang nyata untuk tumbuh tanpa modal iklan besar, asalkan strategi kontennya konsisten dan sesuai dengan perilaku belanja audiens.
Bisnis digital Indonesia berubah arah dengan cepat. Model lama mengandalkan orang yang sudah tahu apa yang ingin dibeli, lalu mencari produk di marketplace. Model baru membalik urutannya: orang menemukan produk secara tidak sengaja saat menonton konten, lalu memutuskan membeli. Model inilah yang disebut discovery commerce, perdagangan berbasis penemuan melalui konten digital.
Discovery commerce adalah model perdagangan di mana konsumen menemukan produk melalui konten, bukan melalui pencarian. Video pendek berdurasi 15 sampai 30 detik, siaran langsung, hingga konten bergaya get ready with me (GRWM) menjadi pintu masuk utama. Kontennya menginspirasi, menghibur, lalu menawarkan produk di tengah pengalaman menonton.
President Director Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia Stephanie Susilo menyatakan bahwa model perdagangan daring berbasis penemuan konten digital berpotensi mengakselerasi pertumbuhan industri fesyen lokal. Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan resmi pada Kamis, 1 Oktober 2026, seperti dikutip kantor berita Antara (baca liputan lengkapnya di ValidNews tentang tren konsumsi konten dan fesyen lokal).
Perbedaan paling mendasar dari discovery commerce dibanding e-commerce konvensional terletak pada peran konten. Di marketplace konvensional, konten seperti foto produk dan deskripsi berfungsi meyakinkan pembeli yang sudah datang. Di discovery commerce, konten berfungsi menarik pembeli yang bahkan belum sadar membutuhkan produk tersebut. Pembeli menonton dulu, tertarik, baru membeli.
Google Indonesia menyebut fenomena ini sebagai konvergensi konten dan perdagangan. Veronica Utami, Country Director Google Indonesia, dalam laporan e-Conomy SEA 2025 menyatakan, Konvergensi antara konten dan perdagangan kini tak terelakkan: Indonesia menjadi pasar video commerce terbesar dan tumbuh paling cepat di Asia Tenggara.
Indonesia memang mempertahankan posisinya sebagai ekonomi digital terbesar di kawasan, dengan GMV diperkirakan mendekati US$100 miliar pada 2025 dan tumbuh 14 persen dibanding tahun sebelumnya.
Data terbaru menunjukkan discovery commerce bukan tren sesaat. Berikut beberapa angka kunci dari berbagai sumber resmi:
| Indikator | Angka | Sumber |
|---|---|---|
| Nilai transaksi fesyen TikTok Shop, semester I 2026 | Naik 70% dibanding periode yang sama tahun lalu | TikTok Shop by Tokopedia |
| Jumlah kreator fesyen, semester I 2026 | Bertambah 74% | TikTok Shop by Tokopedia |
| Nilai transaksi fesyen dari kreator, semester I 2026 | Naik 95% | TikTok Shop by Tokopedia |
| Volume transaksi video commerce nasional | Lonjakan 90% menjadi 2,6 miliar transaksi | e-Conomy SEA 2025 (Google, Temasek, Bain) |
| Jumlah penjual dan toko daring | Naik 75% menjadi 800 ribu | e-Conomy SEA 2025 |
| GMV ekonomi digital Indonesia | Mendekati US$100 miliar, tumbuh 14% | e-Conomy SEA 2025 |
| Proyeksi nilai transaksi live streaming Asia Pasifik | Mencapai US$12 miliar pada akhir 2026 | Meta, laporan tren 2026 |
| PDB sektor fesyen dan kriya, triwulan I 2026 | Rp120,13 triliun, naik 7,89% | Kementerian Perindustrian |
Angka yang paling menarik adalah kenaikan 95 persen nilai transaksi fesyen yang dihasilkan kreator. Artinya, pertumbuhan transaksi tidak hanya berasal dari akun brand sendiri, melainkan dari ekosistem kreator afiliasi yang mempromosikan produk secara sukarela maupun berbayar. Brand tidak lagi menjual sendirian. Mereka dibantu ribuan kreator yang masing-masing punya audiens setia.
Distribusi pertumbuhannya juga inklusif. Pertumbuhan transaksi produk fesyen tertinggi tercatat di Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Sulawesi Barat, dan Gorontalo. Daerah di luar Jawa justru memimpin pertumbuhan. Discovery commerce menurunkan hambatan geografis: selama ada koneksi internet dan konten yang menarik, penjual dari daerah mana pun bisa menjangkau pasar nasional.
Dua jenama fesyen lokal menjadi contoh konkret bagaimana discovery commerce bekerja di lapangan.
ANTARESTAR adalah jenama fesyen yang mencatat omzet bulanan hingga miliaran rupiah sepanjang 2026. Founder ANTARESTAR, Faiz Daffa, mulai membangun jenama tersebut pada 2019. Strateginya sederhana tapi melelahkan: konsistensi siaran langsung selama 24 jam dan kolaborasi dengan kreator afiliasi yang mempromosikan tren fesyen luar ruang untuk anak muda, termasuk jaket gunung.
Kini ANTARESTAR memberdayakan lebih dari 100 karyawan dan bekerja sama dengan 60 konveksi di berbagai daerah. Faiz menyatakan, Bagi kami, pertumbuhan bisnis juga berarti membuka lebih banyak peluang bagi ekosistem fesyen lokal untuk berkembang bersama.
Pertumbuhan satu brand ternyata menyeret puluhan konveksi lokal ikut berkembang.
KUKAI memanfaatkan video pendek dan siaran langsung untuk mengembangkan bisnis. Pendirinya, Sharon, mulai merintis usaha saat masih kuliah pada 2022. Bisnis tersebut kini berkembang dari usaha yang dikelola sendiri menjadi perusahaan dengan 57 karyawan.
Sharon mengungkapkan bahwa video pendek dan sesi live sangat membantu bisnisnya, khususnya untuk membangun antusiasme konsumen saat meluncurkan koleksi terbaru. Hampir 50 persen nilai transaksi KUKAI di platform sepanjang 2026 berasal dari siaran langsung. Beberapa koleksi terbaru bahkan terjual habis dalam 30 menit pertama siaran. Saat Ramadan 2026, omzet KUKAI meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan periode biasa.
Kesamaan pola dari kedua kasus ini jelas: mereka tidak mengandalkan satu posting viral. Mereka membangun rutinitas konten. Live shopping tiga kali seminggu dengan host yang familiar dengan audiens, countdown timer untuk menciptakan urgensi, dan kupon eksklusif yang hanya berlaku selama sesi live adalah kombinasi yang terbukti efektif.
Untuk pelaku usaha yang masih ragu memilih kanal, berikut perbandingan langsung kedua model:
| Aspek | Discovery Commerce | E-Commerce Konvensional |
|---|---|---|
| Titik masuk pembeli | Menonton konten (video, live) | Mencari produk di kolom pencarian |
| Peran konten | Menarik dan menciptakan kebutuhan | Meyakinkan pembeli yang sudah berminat |
| Modal awal | Relatif rendah: ponsel dan konsistensi | Lebih tinggi: foto katalog, iklan pencarian, SEO |
| Biaya akuisisi pelanggan | Terbagi dengan kreator afiliasi | Ditanggung penuh brand lewat iklan |
| Kecepatan feedback | Instan: komentar dan interaksi live | Lebih lambat: ulasan setelah pembelian |
| Ketergantungan algoritma | Tinggi: distribusi konten menentukan | Sedang: peringkat pencarian bisa dioptimasi |
| Kecocokan produk | Terbaik untuk produk visual dan emosional (fesyen, kosmetik, makanan) | Semua kategori, termasuk produk spesifikasi teknis |
| Skala operasional | Menuntut konsistensi produksi konten harian | Menuntut efisiensi operasional dan logistik |
Tabel di atas bukan ajakan meninggalkan marketplace konvensional. Kombinasi keduanya justru paling kuat. Brand fesyen lokal yang berkembang umumnya tetap punya toko di marketplace untuk menampung pembeli yang sudah kenal brand, sambil menggunakan discovery commerce untuk menjangkau pembeli baru. Untuk panduan strategi gabungan lintas marketplace, baca juga panduan omni-channel UMKM multi marketplace yang membahas cara menyatukan kanal penjualan dalam satu operasional.
Memulai tidak serumit yang dibayangkan. Berikut langkah praktis berdasarkan pola yang berhasil dari studi kasus di atas:
1. Pilih satu format konten andalan. Dua format terbukti menghasilkan: video pendek 15 sampai 30 detik dan siaran langsung. Video pendek cocok untuk jangkauan luas, sedangkan live cocok untuk closing. Data pemasaran 2026 menunjukkan iklan video pendek menghasilkan CTR rata-rata 4,8 persen, hampir dua kali lipat iklan statis. Mulai dari satu format dulu agar konsisten, jangan langsung semua.
2. Bangun rutinitas, bukan menunggu viral. KUKAI dan ANTARESTAR tumbuh lewat konsistensi, bukan satu video meledak. Jadwalkan sesi live reguler, misalnya tiga kali seminggu dengan durasi tetap. Audiens membentuk kebiasaan menonton, sama seperti menonton acara TV favorit.
3. Manfaatkan kreator afiliasi sejak awal. Program afiliasi memungkinkan kreator mempromosikan produk dengan komisi per penjualan. Brand tidak keluar modal di depan, kreator mendapat penghasilan, dan brand mendapat eksposur ke audiens baru. Untuk teknis pendaftarannya, ikuti panduan TikTok Shop affiliate: cara daftar dan mulai yang menjelaskan langkah registrasi hingga tips konten pertama.
4. Ikuti format konten yang sedang dicari audiens. Pada 2026, format seperti GRWM, OOTD, dan 3 Ways to Style menjadi pintu penemuan produk fesyen. Format gorpcore, yang memadukan perlengkapan outdoor dengan streetwear, menunjukkan bagaimana tren gaya hidup bisa langsung diterjemahkan menjadi penjualan produk. Konten yang menjawab kebutuhan audiens selalu menang atas konten yang hanya memajang produk.
5. Siapkan operasional sebelum konten meledak. KUKAI pernah menghabiskan stok dalam 30 menit pertama siaran. Ini kabar baik sekaligus peringatan: stok, kemasan, dan logistik harus siap sebelum konten viral. Kekecewaan pembeli karena stok habis tanpa kabar bisa merusak momentum yang susah payah dibangun.
6. Gunakan AI untuk mempercepat produksi konten. Meta mencatat lebih dari 60 persen perusahaan di Asia Pasifik sudah mengintegrasikan model bahasa untuk penulisan konten, analisis data, dan layanan pelanggan. UKM di Bandung memanfaatkan AI generatif untuk menghasilkan materi promosi harian tanpa harus menggandeng agensi luar. Survei Asosiasi Periklanan Indonesia mencatat rata-rata biaya pembuatan video iklan turun dari Rp15 juta menjadi Rp6 juta per produksi. Untuk memilih tools yang tepat, lihat daftar AI tools terbaru yang wajib dicoba.
7. Layani chat sebagai pintu penjualan. Meta memproyeksikan 45 persen transaksi B2C di Indonesia akan dimulai lewat percakapan chat, naik dari 28 persen pada 2023. Integrasikan WhatsApp Business atau fitur chat platform dengan balasan cepat, konfirmasi stok, dan tautan checkout. Friksi sekecil apa pun di tahap ini bisa menggugurkan niat beli yang sudah terbentuk dari konten.
Discovery commerce punya sisi lain yang jarang dibahas. Berikut kesalahan yang sering menjebak pelaku usaha pemula:
Terlalu fokus pada penjualan, lupa pada konten. Audiens membuka aplikasi untuk hiburan, bukan untuk ditawari barang. Konten yang isinya hanya katalog produk dengan musik akan dilewati. Campurkan hiburan, edukasi, dan cerita di balik produk. Penjualan yang terjadi adalah efek samping dari konten yang ditonton sampai habis.
Tidak konsisten lalu menyalahkan algoritma. Algoritma memberi distribusi ke akun yang konsisten memproduksi konten. Banyak brand berhenti setelah dua minggu karena views rendah, padahal akun yang berhasil umumnya butuh 60 sampai 90 hari membangun pola penonton setia. Konsistensi adalah strategi, bukan sekadar nasihat motivasi.
Mengabaikan data performa. Platform menyediakan analitik lengkap: jam tayang terbaik, demografi penonton, hingga titik penonton berhenti menonton. Brand yang berkembang membaca data ini setiap minggu dan menyesuaikan. Brand yang stagnan mengulang format yang sama tanpa evaluasi.
Ekspansi terburu-buru tanpa fondasi operasional. Di tengah tekanan tech winter, di mana pendanaan startup menurun drastis dan investor lebih memilih bisnis yang efisien, pertumbuhan yang tidak sehat justru berbahaya. Kasus konsolidasi startup menunjukkan betapa ketatnya bertahan mandiri tanpa efisiensi operasional. Prinsip yang sama berlaku untuk UMKM: pastikan margin, stok, dan layanan purna jual sehat sebelum menaikkan volume konten dan penjualan.
Bergantung pada satu platform. Perubahan algoritma atau kebijakan satu platform bisa memangkas jangkauan dalam semalam. Bangun basis pelanggan yang bisa dihubungi langsung, misalnya lewat database WhatsApp atau email, agar bisnis tidak sepenuhnya bergantung pada sewa audiens dari platform.
Discovery commerce mengubah definisi toko. Toko bukan lagi halaman produk statis, melainkan aliran konten yang hidup setiap hari. Video pendek adalah etalase, kreator afiliasi adalah tenaga penjual, dan siaran langsung adalah kasir tempat transaksi terjadi.
Data membuktikan model ini bekerja di Indonesia: transaksi fesyen naik 70 persen, kreator bertambah 74 persen, dan UMKM seperti ANTARESTAR serta KUKAI tumbuh dari usaha kecil menjadi perusahaan dengan puluhan hingga ratusan karyawan. Peluangnya terbuka untuk daerah mana pun, bukan hanya kota besar.
Langkah pertama yang paling realistis adalah memilih satu format, membuat jadwal konten mingguan, dan menjalankannya konsisten selama tiga bulan. Evaluasi data setiap minggu, perbaiki yang tidak bekerja, dan gandakan yang berhasil. Untuk kerangka strategi pemasaran digital yang lebih menyeluruh, pelajari strategi pemasaran digital untuk bisnis kecil: panduan closing dari nol sebagai pendamping artikel ini.
Mulailah minggu ini. Rekam video pertama, jadwalkan live pertama, dan biarkan data memandu langkah berikutnya.