Headphone over ear kelas flagship sering terjebak di pola yang sama: suara bagus, desain aman, harga tinggi, dan janji peredam bising yang sulit dibedakan satu sama lain. Nothing Headphone 1 Pro mencoba keluar dari pola itu lewat cara yang khas Nothing, yaitu membongkar isi earcup ke permukaan dan membagi tugas suara ke tiga driver yang berbeda. Hasilnya bukan sekadar headphone yang terlihat beda, melainkan produk yang memaksa calon pembeli menimbang ulang prioritas: desain dan detail suara, atau peredam bising terbaik dan bobot paling ringan.
Nothing Headphone 1 Pro layak masuk daftar pendek bagi pendengar yang mengutamakan karakter suara yang bisa diatur secara mendalam, desain yang berani, dan konektivitas modern seperti audio lossless lewat USB-C serta LDAC. Harga peluncurannya 399 dolar AS menempatkan produk ini di kelas flagship, sejajar dengan nama besar seperti Sony dan Bose, bukan di kelas penantang murah.
Di sisi lain, produk ini bukan pilihan paling aman bagi pembeli yang menempatkan peredam bising sebagai prioritas utama. Beberapa ulasan independen menilai peredam bisingnya bagus untuk pemakaian harian, tetapi masih di bawah Sony WH-1000XM6 dalam pengujian yang sama. Bobot 327 gram juga terasa lebih berat dibanding kompetitor yang berada di kisaran 250 gram. Jadi, keputusan membeli sebaiknya berangkat dari satu pertanyaan sederhana: apakah desain, pengaturan suara, dan fitur konektivitas lebih penting daripada peredam bising paling senyap dan bobot paling ringan.
Bagian paling penting dari Headphone 1 Pro terletak di dalam earcup. Setiap sisi memakai tiga driver: driver dinamis 40 mm untuk bass, driver dinamis presisi untuk midrange dan vokal, serta driver xMEMS bersilikon untuk treble. Pembagian tugas ini meniru logika speaker rumahan, di mana setiap rentang frekuensi ditangani komponen yang memang dirancang untuk rentang tersebut.
Rentang frekuensi yang diklaim mencapai 20 Hz sampai 40 kHz. Angka itu penting bukan karena telinga manusia bisa mendengar seluruh rentang tersebut, melainkan karena pembagian kerja membuat tiap driver bekerja di zona yang lebih sempit. Bass tidak perlu dipaksa keluar dari driver yang sama dengan treble, dan vokal tidak perlu bersaing dengan dentuman bass. Dalam praktik, ulasan dari Gizmodo menyebut sistem tiga driver ini terdengar kaya dan bernuansa, terutama setelah pengaturan EQ dipersonalisasi lewat aplikasi Nothing X.
Saya membaca pola yang konsisten di beberapa ulasan awal: karakter bawaan Headphone 1 Pro cenderung hangat dan berbass kuat, tetapi tidak sampai menenggelamkan midrange dan treble. Bagi pendengar musik pop, R and B, dan elektronik, karakter itu terasa menyenangkan sejak pemakaian pertama. Bagi pendengar yang menginginkan suara netral untuk mixing kasar atau referensi studio rumahan, tombol Flat EQ menjadi pembeda penting. Tombol fisik di dalam earcup kiri itu, yang dikembangkan bersama Metropolis Studios, memangkas penguatan bass dan menampilkan suara yang lebih datar. Kehadiran tombol fisik membuat pergantian profil tidak perlu membuka aplikasi, meski beberapa ulasan mencatat posisinya agak sulit dijangkau saat headphone sedang dipakai.
Aplikasi Nothing X juga menyediakan EQ standar, EQ lanjutan, dan personal sound berdasarkan tes pendengaran. Pengaturan lanjutan bersifat opsional, karena profil bawaan sudah cukup matang untuk pemakaian langsung.
Nothing membangun identitas visual dari transparansi sejak awal, dan Headphone 1 Pro membawa identitas itu ke level material yang lebih serius. Rangka memakai aluminium yang dipahat dari satu blok, lengan memakai paduan titanium yang diklaim 45 persen lebih ringan dibanding lengan Headphone 1, dan jendela kaca memakai Panda Glass 9H yang tahan gores dan pecah. Jendela itu tidak hanya menampilkan sebagian arsitektur tiga driver, tetapi juga memberi kesan perangkat yang dirancang untuk dipamerkan, bukan disembunyikan.
Bantalan telinga dua lapis diklaim 50 persen lebih lembut dibanding pendahulunya dan lebih ramah bagi pemakai kacamata. Earcup bisa miring sampai 20 derajat untuk menyesuaikan bentuk kepala. Detail kecil seperti ini sering luput dari spesifikasi pemasaran, padahal justru menentukan apakah headphone 327 gram terasa nyaman selama berjam jam atau mulai menekan setelah satu jam pemakaian. Beberapa ulasan menyebut kenyamanan produk ini baik untuk sesi panjang, meski bobotnya tetap terasa dibanding kompetitor yang lebih ringan.
Kontrol fisik menjadi ciri lain yang membedakan produk ini dari headphone yang mengandalkan panel sentuh sepenuhnya. Ada roller untuk volume, pemutaran, dan jeda, plus tombol untuk mode peredam bising. Kontrol fisik lebih mudah dipakai tanpa melihat, terutama saat berjalan atau berada di transportasi umum. Kekurangannya, roller bisa tersentuh tanpa sengaja, dan tombol Flat EQ di bagian dalam earcup kiri butuh penyesuaian posisi jari. Desain transparan memang menarik perhatian, tetapi pembeli yang menginginkan tampilan low profile untuk kantor yang formal mungkin lebih cocok dengan desain Sony yang kalem atau Bose yang netral.
Rating IP52 memberi perlindungan terhadap debu dan percikan air. Rating ini cukup untuk pemakaian harian dan gerimis ringan, tetapi bukan undangan untuk memakai headphone saat hujan deras atau olahraga berat. Pembeli yang mencari perangkat olahraga sebaiknya tetap memilih earbuds khusus olahraga, seperti yang dibahas dalam artikel rekomendasi TWS earbuds terbaik untuk semua budget di Grafisify.
Sistem peredam bising adaptif Headphone 1 Pro memakai 10 mikrofon dan diklaim mampu meredam sampai 46 dB. Angka itu 5 dB lebih kuat dibanding Headphone 1 dan mencakup rentang frekuensi yang 40 persen lebih lebar menurut klaim Nothing. Dalam pemakaian nyata, peredam bising ini bekerja baik untuk dengung pesawat, suara jalan, dan kebisingan kantor yang stabil. Kelemahannya muncul pada suara yang tidak stabil, seperti percakapan di dekat telinga dan bunyi berfrekuensi menengah yang lolos lewat celah segel earcup, terutama bagi pemakai kacamata.
Perbandingan langsung dengan Sony menjadi penting di sini. Ulasan di Pocket Tactics dan MakeUseOf menilai peredam bising Headphone 1 Pro andal untuk komuter dan jalan kaki, tetapi belum menyamai level Sony dalam hal isolasi total. The Verge, lewat perbandingan yang dikutip beberapa media lain, juga menempatkan produk ini di bawah Sony dan headphone premium lain untuk peredam bising, meski tetap menilai kinerjanya baik untuk dengung pesawat dan lalu lintas. Saya membaca kesimpulan itu sebagai peringatan yang jujur: peredam bising Headphone 1 Pro cukup untuk mayoritas pemakaian, tetapi bukan alasan utama untuk membelinya.
Untuk panggilan, Nothing memakai Environmental Noise Cancellation dengan dua mikrofon di tiap sisi, yang dilatih dari lebih dari 30 juta skenario untuk menjaga suara tetap jelas sambil menekan angin dan bunyi frekuensi tinggi.
Dynamic Spatial Audio dengan pelacakan kepala menawarkan lima preset, termasuk Standard, Live House, Club, Concert Hall, dan mode dari Studio B di Metropolis Studios. Efek ini cocok untuk film dan video, tetapi untuk album yang sudah dikenal baik, mode standar menjaga karakter asli rekaman.
Baterai 1.060 mAh memberi daya sampai 68 jam tanpa peredam bising aktif dan 30 jam dengan peredam bising aktif, berdasarkan pengujian AAC. Isi daya lima menit memberi sekitar 4 jam pemakaian tanpa peredam bising aktif. Angka itu cukup untuk perjalanan panjang, minggu kerja penuh dengan pemakaian moderat, dan sesi editing yang tidak ingin diganggu kabel pengisi daya.
Namun ada catatan yang perlu disampaikan secara terbuka: daya tahan ini lebih rendah dibanding pendahulunya. Headphone 1 diklaim mencapai 80 jam tanpa peredam bising aktif dan 35 jam dengan peredam bising aktif. Penurunan itu kemungkinan merupakan konsekuensi dari tiga driver, pemrosesan yang lebih berat, dan material yang berbeda. Bagi pembeli yang mengutamakan daya tahan absolut, penurunan 12 jam tanpa peredam bising aktif dan 5 jam dengan peredam bising aktif adalah perbedaan nyata, meski 30 jam dengan peredam bising aktif tetap tergolong panjang di kelas flagship.
Konektivitas memakai Bluetooth 6.1 dengan dukungan AAC, SBC, LDAC, dan LC3, plus Google Fast Pair, Microsoft Swift Pair, dan penyiapan instan untuk perangkat Apple. Koneksi ke dua perangkat sekaligus memudahkan perpindahan dari laptop ke ponsel tanpa proses pairing ulang. Dukungan Auracast membuka kemungkinan berbagi audio ke beberapa perangkat yang kompatibel di masa depan, meski ekosistemnya masih berkembang dan belum bisa menjadi alasan utama pembelian saat ini.
Bagian yang paling menarik bagi pendengar serius adalah audio kabel. Lewat USB-C, Headphone 1 Pro mendukung pemutaran lossless sampai 24-bit dan 192 kHz. Lewat LDAC nirkabel, audio Hi-Res tersedia sampai 24-bit dan 96 kHz. Perbedaan ini penting untuk dipahami: angka lossless tidak otomatis membuat semua lagu terdengar lebih baik, karena kualitas rekaman, mastering, dan layanan streaming juga menentukan. Namun bagi pendengar yang sudah berlangganan layanan lossless dan memakai perangkat yang mendukung LDAC, jalur kabel dan nirkabel produk ini memberi fleksibilitas yang tidak dimiliki semua flagship. Panduan dasar soal koneksi nirkabel di perangkat Android bisa dibaca di artikel cara menggunakan Bluetooth di HP Android untuk pemula.
Tabel berikut merangkum perbedaan utama antara Headphone 1 Pro dan pendahulunya berdasarkan spesifikasi resmi dan liputan peluncuran. Perbandingan ini membantu melihat apa yang benar-benar berubah, bukan sekadar apa yang terdengar baru.
| Aspek | Headphone 1 Pro | Headphone 1 |
|---|---|---|
| Harga peluncuran | 399 dolar AS | 299 dolar AS |
| Driver per earcup | Tiga driver: bass 40 mm, midrange presisi, treble xMEMS | Satu driver dinamis 40 mm |
| Peredam bising | Sampai 46 dB, 10 mikrofon | Sampai 41 dB berdasarkan selisih 5 dB yang diklaim Nothing |
| Baterai, ANC aktif | Sampai 30 jam | Sampai 35 jam |
| Baterai, ANC nonaktif | Sampai 68 jam | Sampai 80 jam |
| Bobot | 327 gram | Sekitar 328 gram |
| Material utama | Aluminium, titanium, kaca Panda Glass 9H | Desain transparan generasi pertama |
| Audio kabel | USB-C lossless sampai 24-bit dan 192 kHz | Tidak menjadi sorotan utama seperti model Pro |
Tabel itu menunjukkan pola upgrade yang tidak linear. Suara, material, dan peredam bising naik kelas, tetapi daya tahan turun. Pembeli yang sudah memakai Headphone 1 dan puas dengan daya tahannya perlu menimbang apakah detail suara dan Flat EQ sepadan dengan pengurangan daya tahan tersebut. Pembeli baru yang belum terikat ekosistem Nothing bisa menilai produk ini apa adanya: flagship dengan karakter kuat, bukan sekadar versi mahal dari pendahulunya.
Kekurangan pertama adalah peredam bising yang belum menjadi yang terbaik di kelasnya. Bagi pembeli yang sering terbang jarak jauh dan menginginkan keheningan maksimal, Sony WH-1000XM6 masih menjadi patokan yang lebih aman menurut beberapa ulasan perbandingan. Perbandingan mendetail antara keduanya dibahas di ulasan Nothing Headphone 1 Pro vs Sony WH-1000XM6 untuk ponsel, yang juga menyoroti perbedaan konektivitas dan bobot.
Kekurangan kedua adalah bobot dan ukuran. Pada 327 gram, Headphone 1 Pro terasa lebih berat daripada Sony WH-1000XM6 yang berada di kisaran 254 gram dan Bose QuietComfort Ultra di kisaran yang sama. Selisih 70 gram lebih mungkin terasa setelah dua sampai tiga jam pemakaian dibanding pada percobaan singkat di toko. Bantalan yang lebih lembut membantu, tetapi tidak menghapus perbedaan massa.
Kekurangan ketiga bersifat praktis: casing bawaan dinilai beberapa ulasan sebagai menarik tetapi kurang praktis, karena tidak menyediakan tempat pengisian daya atau ruang kabel yang rapi. Kekurangan keempat adalah posisi tombol Flat EQ yang sulit dijangkau saat dipakai, sehingga fitur unggulan ini justru lebih sering diakses lewat aplikasi daripada lewat tombol fisik. Kekurangan kelima adalah harga 399 dolar AS yang menuntut ekspektasi flagship penuh, termasuk peredam bising dan daya tahan, bukan hanya suara dan desain.
Di luar kekurangan itu, ada satu risiko pembelian yang berlaku untuk semua headphone flagship: selera suara bersifat personal. Karakter bass yang hangat bisa terasa menyenangkan bagi satu pendengar dan terasa berlebihan bagi pendengar lain. Karena itu, masa retur toko dan kesempatan mencoba langsung tetap lebih berharga daripada semua angka spesifikasi. Jika toko di sekitar menyediakan unit demo, luangkan waktu untuk mencoba tiga hal: kenyamanan setelah 30 menit, kejelasan vokal pada volume sedang, dan performa peredam bising di ruangan yang ramai.
Headphone 1 Pro paling cocok untuk pendengar yang menyukai desain sebagai bagian dari identitas perangkat, suka mengatur EQ sampai detail, dan memakai headphone untuk musik, film, serta rapat dalam satu perangkat. Konektivitas USB-C lossless dan LDAC memberi nilai tambah nyata bagi pendengar yang sudah memakai layanan streaming berkualitas tinggi. Desainer, editor video, dan kreator yang bekerja dengan referensi audio juga bisa memanfaatkan Flat EQ sebagai titik awal mendengarkan yang lebih netral.
Produk ini kurang cocok untuk pembeli yang mengutamakan peredam bising paling senyap di atas segalanya, menginginkan bobot paling ringan untuk pemakaian seharian, atau mencari daya tahan baterai terpanjang di kelasnya. Pembeli dengan anggaran ketat juga sebaiknya mempertimbangkan headphone Nothing yang lebih terjangkau atau model pendahulu yang kini bisa didapat dengan harga lebih rendah. Pertimbangan anggaran ini mirip dengan logika memilih ponsel, yang dibahas dalam artikel HP flagship vs mid-range, mana yang lebih layak dibeli.
Untuk pembeli yang sudah memiliki headphone flagship generasi terbaru dari Sony atau Bose dan masih puas, Headphone 1 Pro bukan upgrade wajib. Perbedaannya terletak pada karakter dan pendekatan desain, bukan pada lompatan kualitas yang membuat perangkat lama terasa usang. Sebaliknya, bagi pembeli yang datang dari headphone kelas menengah dan ingin naik kelas dengan karakter yang jelas, Headphone 1 Pro memberi alasan yang kuat untuk berpindah, asalkan peredam bisingnya sudah dicoba dan dirasa cukup.
Sebelum membeli perangkat bekas atau unit demo sebagai alternatif hemat, ada baiknya membaca panduan tips cerdas membeli gadget bekas anti zonk supaya kondisi fisik, fungsi tombol, dan kesehatan baterai diperiksa dengan teliti. Headphone dengan banyak tombol fisik dan bantalan yang bisa aus menuntut pemeriksaan ekstra dibanding perangkat yang sepenuhnya mengandalkan panel sentuh.
Nothing Headphone 1 Pro berhasil karena berani punya pendirian. Tiga driver memberi fondasi suara yang detail, Flat EQ memberi jalan pintas menuju suara netral, material titanium dan aluminium memberi kesan premium yang nyata, dan desain transparan memberi identitas yang sulit ditiru. Di saat bersamaan, produk ini jujur menunjukkan batasnya: peredam bising belum menjadi yang terbaik, bobotnya tidak ringan, dan daya tahannya turun dibanding pendahulu.
Keputusan terbaik bergantung pada urutan prioritas. Jika urutan itu adalah desain, detail suara, dan fleksibilitas konektivitas, Headphone 1 Pro layak dibeli di harga flagshipnya. Jika urutan itu adalah keheningan maksimal, bobot ringan, dan daya tahan terpanjang, kompetitor yang lebih mapan masih memberi rasa aman yang lebih besar. Tidak ada jawaban yang benar untuk semua pendengar, yang ada hanyalah kecocokan antara karakter perangkat dan kebiasaan mendengarkan.
Untuk verifikasi spesifikasi resmi, kunjungi halaman produk Nothing Headphone 1 Pro. Untuk sudut pandang ulasan independen, baca ulasan MakeUseOf, ulasan Gizmodo, dan ulasan Pocket Tactics sebelum memutuskan. Setelah mencoba atau membeli, bagikan pengalaman di kolom komentar Grafisify: lagu apa yang paling terasa berubah saat memakai Headphone 1 Pro, dan apakah Flat EQ menjadi fitur yang dipakai setiap hari atau hanya dicoba sekali lalu dilupakan.