Tahun 2025 menjadi saksi di mana batas antara kamera profesional dan smartphone semakin kabur, dan vivo X300 Pro adalah bukti nyata dari pernyataan tersebut. Setelah sukses besar dengan seri X100 dan X200, vivo kembali menggebrak pasar Indonesia di kuartal akhir tahun ini dengan membawa upgrade yang tidak main-main. Bukan sekadar penyegaran rutin, X300 Pro hadir dengan narasi “Photography Redefined” melalui sensor telefoto 200MP yang fenomenal dan transformasi software yang akhirnya menjawab keluhan lama pengguna.
Sebagai suksesor, beban yang dipikul X300 Pro cukup berat: ia harus melampaui kemampuan fotografi X200 Pro yang sudah legendaris, sembari memperbaiki efisiensi daya yang kerap menjadi isu di chipset high-end. Apakah perangkat ini hanya sekadar “gimmick” megapiksel besar, atau benar-benar sebuah pocket camera yang bisa menelepon? Dalam review mendalam ini, kita akan membedah tuntas performa, kamera, hingga daya tahan baterai dari vivo X300 Pro setelah penggunaan intensif selama dua minggu.
Jika Anda tipe pembeli yang butuh alasan cepat sebelum membaca detail teknis, berikut adalah “Key Selling Points” yang membuat vivo X300 Pro sulit ditolak:
Berikut adalah jeroan lengkap dari unit ritel vivo X300 Pro yang beredar di Indonesia:
| Komponen | Spesifikasi |
|---|---|
| Layar | 6.78-inch LTPO AMOLED, 1.5K (2800 x 1260), 1-120Hz, 6000 nits Peak Brightness, HDR10+, Dolby Vision |
| Chipset | MediaTek Dimensity 9500 (3nm) + V4 Imaging Chip |
| RAM/Storage | 12GB/16GB LPDDR5X | 256GB/512GB/1TB UFS 4.0 |
| Kamera Belakang | 50 MP, f/1.6 (Main) 1-inch Sensor, OIS 50 MP, f/2.0 (Ultrawide) AF 200 MP, f/2.7 (Periscope Telephoto) ZEISS APO, 3.7x Optical Zoom, 100x Digital Zoom, Telemacro |
| Kamera Depan | 50 MP Ultrawide Selfie, f/2.0, Autofocus, Support 4K 60fps |
| Baterai & Charging | 6500 mAh (BlueVolt Tech), 120W FlashCharge, 50W Wireless FlashCharge |
| OS | Funtouch OS 16 (with Origin Experience) berbasis Android 16 |

Vivo X300 Pro masih mempertahankan bahasa desain “Big Eye” (modul kamera bulat besar) di bagian belakang, namun dengan penyempurnaan detail yang membuatnya terasa jauh lebih mewah. Modul kameranya kini dikelilingi oleh ring bergerigi yang terinspirasi dari jam tangan mewah, memberikan tekstur yang memuaskan saat disentuh.
Unit yang kami ulas adalah varian warna Titanium Silver. Berbeda dengan pendahulunya, kaca belakangnya menggunakan finishing AG Glass bertekstur satin yang sangat ampuh menolak sidik jari namun tetap terasa licin. Untungnya, ergonomi perangkat ini sangat baik berkat desain “Quad-Curved” di sisi depan dan belakang, membuatnya nyaman digenggam berlama-lama meskipun bobotnya mencapai 225 gram (efek baterai besar dan optik kaca).
Satu peningkatan krusial adalah sertifikasi IP69 (bukan lagi sekadar IP68). Ini berarti X300 Pro tahan terhadap semprotan air tekanan tinggi dan suhu ekstrem, memberikan ketenangan pikiran ekstra bagi Anda yang sering memotret outdoor di kondisi cuaca tak menentu.
Layar adalah jendela utama smartphone, dan vivo tidak berkompromi di sini. Panel 6.78 inci yang digunakan adalah panel custom terbaru (kemungkinan dari BOE seri Q10 ke atas). Ketajaman 1.5K terasa sangat pas—lebih tajam dari FHD+ namun lebih hemat daya dibanding WQHD+.
Fitur unggulan di sini adalah 2160Hz PWM Dimming yang aktif di semua tingkat kecerahan, sangat ramah bagi mata sensitif saat penggunaan malam hari. Reproduksi warnanya luar biasa, dengan mode “ZEISS Natural Color” yang memberikan akurasi warna deltaE < 1, sangat krusial bagi fotografer untuk me-review hasil foto langsung di layar HP.
Di sektor audio, vivo akhirnya memberikan konfigurasi dual stereo speaker yang seimbang antara earpiece dan bottom speaker. Bass-nya terasa lebih “nendang” dibanding X200 Pro, dan separasi instrumennya jelas. Sayangnya, jack 3.5mm tetap absen, namun dukungan codec LDAC dan aptX Lossless via Bluetooth menjamin kualitas audio hi-res bagi pengguna TWS.
Menggunakan MediaTek Dimensity 9500, vivo X300 Pro adalah “monster” yang menyamar sebagai kamera. Dalam pengujian sintetis AnTuTu v11, skornya tembus angka 3.4 Juta poin (estimasi), mengungguli kompetitor sekelasnya.
Kunci dari performa ini bukan hanya chipset, tapi juga manajemen termal. Vapor Chamber yang diperluas hingga menutupi area baterai membuat suhu permukaan HP jarang menyentuh angka 43 derajat Celcius, bahkan saat sesi gaming panjang. Vivo tampaknya berhasil menjinakkan performa liar Dimensity 9500.
Inilah alasan utama Anda melirik X300 Pro. Kolaborasi dengan ZEISS memasuki babak baru dengan integrasi sensor dan algoritma yang lebih dalam.
Sensor utama menangkap detail dengan Dynamic Range yang mencengangkan. Dalam kondisi backlight ekstrem, fitur ZEISS T* Coating terbaru hampir menghilangkan ghosting dan flare sepenuhnya. Warna kulit (skintone) terlihat sangat natural namun tetap “hidup”.
Ini adalah game changer. Dengan sensor 200MP di balik lensa periskop, Anda bisa melakukan zoom optik 3.7x yang sangat tajam. Namun, keajaiban terjadi saat Anda melakukan zoom digital hingga 10x atau 20x. Berkat “In-sensor Zoom” dan AI Super Resolution, foto di 10x terlihat seperti optical zoom murni di HP lain. Selain itu, fitur Tele-Macro di lensa ini memungkinkan Anda memotret detail tekstur bunga atau serangga dari jarak jauh dengan bokeh yang creamy alami, bukan buatan software.
Vivo X300 Pro kini mendukung perekaman 4K 120fps di kamera utama, cocok untuk slow motion cinematic. Fitur Cinematic Portrait Video juga semakin rapi dalam memisahkan subjek dan background, bahkan pada rambut yang berantakan. Stabilisasi (Ultra Steady) bekerja layaknya gimbal, sangat minim guncangan.
Sebagai flagship 2025, konektivitasnya sudah future-proof. Dukungan WiFi 7 memberikan kecepatan unduh gigabit (jika router mendukung). Fitur unik yang patut diapresiasi adalah NFC 360 derajat; Anda bisa tap kartu e-money di bagian atas, tengah, atau bawah HP—sangat praktis saat buru-buru di gerbang tol.
Sensor sidik jari yang digunakan adalah tipe Ultrasonic 3D (single point), bukan lagi optikal. Ini adalah upgrade signifikan: unlock instan, bisa dengan jari basah, dan posisinya ergonomis (tidak terlalu ke bawah).
Kabar baik bagi fans vivo di Indonesia: Funtouch OS 16 di X300 Pro terasa sangat berbeda. Vivo menyebutnya “Origin Experience”, di mana widget interaktif (Atomic Notification), folder yang bisa di-resize, dan fluiditas animasi dari OriginOS (versi China) akhirnya dibawa ke pasar Global.
Bloatware berkurang drastis, dan iklan di sistem sudah dihilangkan pada seri flagship ini. Vivo juga menjanjikan 4 tahun update OS Android dan 5 tahun security patch, sebuah komitmen yang setara dengan standar industri saat ini.
Baterai 6500mAh adalah penyelamat. Dalam pengujian kami (media sosial, kamera intensif, streaming musik, dan gaming ringan), vivo X300 Pro konsisten mendapatkan Screen on Time (SoT) di atas 9 jam. Ini adalah angka yang fantastis untuk HP dengan layar secerah dan performa sekencang ini.
Charging 120W FlashCharge mampu mengisi baterai dari 1% ke 100% hanya dalam waktu sekitar 28 menit. Meskipun kapasitas baterainya naik drastis dibanding X100 Pro, waktu chargingnya tetap ngebut. Wireless charging 50W juga tersedia dan sangat responsif jika Anda menggunakan dock charger proprietary vivo.
Vivo X300 Pro bukan sekadar upgrade iteratif. Ia memperbaiki hampir semua celah dari generasi sebelumnya (X200 Pro), terutama di sektor software dan kapasitas baterai.
Berdasarkan info rilis dan konversi harga, vivo X300 Pro diprediksi akan dibanderol dengan harga:
Harga ini menempatkannya head-to-head dengan Samsung Galaxy S25 Ultra dan iPhone 17 Pro, namun dengan keunggulan spesifik di sektor portrait dan charging speed.
Sumber data & referensi teknis: JagatReview, Vivo Indonesia Official, PlanetGadget Blog.