Mari kita bicara jujur. Beberapa tahun lalu, jika Anda menyodorkan laptop gaming merek lokal ke hadapan saya, respons instan saya mungkin hanya sekadar angkat alis skeptis. “Ah, paling rebrand Clevo murah,” batin saya waktu itu. Tapi, industri teknologi bergerak secepat kilat, dan Axioo Pongo 760 V2 hadir di meja redaksi (secara virtual, melalui bedah spesifikasi mendalam) untuk menantang stigma tersebut. Ini bukan sekadar laptop; ini adalah pernyataan perang Axioo terhadap dominasi brand global di segmen mid-range.
Setelah kesuksesan versi pertamanya, Axioo tidak tinggal diam. Varian V2 ini datang dengan janji performa yang lebih “mumpuni” berkat penyegaran dapur pacu ke Intel Core i7 Gen 13 (mengoreksi beberapa kerancuan yang menyebut Gen 11 di pasar lama, V2 ini jelas melompat ke arsitektur hybrid yang lebih modern). Dengan kombinasi GPU RTX 4060 yang dikenal sebagai sweet spot gaming 1080p rata kanan, apakah laptop ini benar-benar “Local Pride” yang layak dibeli, atau hanya menang di atas kertas?
Sebagai Editor yang sudah kenyang melihat angka benchmark, saya akan membedah spesifikasi Axioo Pongo 760 V2 ini sampai ke tulang-tulangnya. Kita tidak akan bicara soal “rasa” bodi plastik yang subjektif, tapi kita akan bicara data, arsitektur, dan potensi bottleneck. Simak analisa brutal saya di bawah ini.
| Komponen | Spesifikasi Detail |
| Prosesor (CPU) | Intel® Core™ i7-13620H (10 Cores: 6 P-Cores + 4 E-Cores, up to 4.9 GHz) |
| Kartu Grafis (GPU) | NVIDIA® GeForce RTX™ 4060 Laptop GPU 8GB GDDR6 (TGP up to 100W) |
| Memori (RAM) | 16GB (2x8GB) DDR4 3200MHz SODIMM (Upgradable up to 64GB) |
| Penyimpanan | 512GB M.2 2280 NVMe Gen 4.0 x4 SSD (Extra 1 Slot M.2 kosong) |
| Layar | 15.6″ FHD (1920 x 1080) IPS-Level, 144Hz, 100% sRGB |
| Konektivitas | Wi-Fi 6 AX201, Bluetooth 5.1, Gigabit LAN |
| Baterai | 54Wh Polymer Battery |
| Dimensi & Berat | 359.5 x 238 x 22.7 mm | ~2.05 Kg |
Melihat bahasa desain yang diusung, Axioo Pongo 760 V2 masih mempertahankan DNA “barebone” yang kental. Apakah ini buruk? Tidak juga. Bagi enthusiast, desain yang sederhana seringkali berarti sirkulasi udara yang lebih masuk akal ketimbang desain tipis yang memaksakan diri. Bobot sekitar 2 kg tergolong standar—tidak seringan ultrabook, tapi tidak seberat laptop gaming “batu bata” zaman dulu. Ini adalah kompromi yang adil.
Yang menarik dari analisa sasis ini adalah absennya gimik RGB berlebihan di bodi luar. Axioo tampaknya sadar, pengguna di segmen ini lebih peduli pada apa yang ada di dalam mesin daripada lampu disko di casing belakang. Pendekatan utilitarian ini justru memberikan kesan “stealth” yang elegan.
Satu hal yang sering menjadi “tumbal” pemangkasan biaya di laptop gaming murah adalah layar. Biasanya, kita disuguhi panel dengan 45% NTSC yang warnanya terlihat seperti cucian luntur. Namun, spesifikasi Axioo Pongo 760 V2 menunjukkan perbaikan signifikan: klaim 100% sRGB.
Kenapa ini penting? Bagi Anda yang merangkap sebagai konten kreator—video editor atau desainer grafis—akurasi warna adalah harga mati. Dengan panel IPS 144Hz, pengalaman gaming FPS akan terasa buttery smooth, sementara saturasi warnanya tetap memanjakan mata saat menonton film atau grading warna tipis-tipis. Ini adalah upgrade krusial yang membuat V2 jauh lebih versatile dibanding pendahulunya.
Mari masuk ke jantung masalahnya. Penggunaan Intel Core i7-13620H adalah langkah cerdas. Berbeda dengan generasi ke-11 atau 12 yang murni soal brute force, Gen 13 Raptor Lake ini menggunakan arsitektur hybrid (P-Cores dan E-Cores). Dengan 10 Core (6 Performance + 4 Efficient), CPU ini menawarkan keseimbangan yang ngeri.
Apa artinya dalam penggunaan nyata? Saat Anda merender video 4K atau bermain game AAA yang CPU-bound seperti Cyberpunk 2077, P-Cores akan bekerja keras. Sementara itu, E-Cores akan mengurus background task seperti Discord, OBS, atau browser yang menumpuk. Analisa saya: CPU ini tidak akan mengalami bottleneck saat dipasangkan dengan RTX 4060. Ini adalah pasangan serasi, layaknya kopi dan senja bagi anak indie—tapi versi yang jauh lebih bertenaga.
Inilah bintang utamanya. RTX 4060 8GB GDDR6. Jangan samakan ini dengan seri 3060, karena ada satu fitur game-changer di sini: DLSS 3 Frame Generation. Fitur ini memungkinkan AI menyisipkan frame tambahan, yang secara teoritis bisa menggandakan FPS di game yang mendukungnya.
Bagi Anda yang berencana memainkan judul-judul berat di setting Ultra 1080p, VRAM 8GB sudah cukup aman untuk 2-3 tahun ke depan. Axioo memberikan TGP (Total Graphics Power) yang cukup longgar (biasanya di kisaran 100W untuk varian ini), memastikan GPU bisa boost maksimal tanpa tertahan limit daya yang agresif. Singkatnya, untuk gaming 1080p, laptop ini bisa melibas apapun yang Anda lemparkan padanya.
Untuk referensi komparasi teknologi grafis terkini, Anda bisa mengecek ulasan mendalam di JagatReview yang membahas detail teknis serupa.
Salah satu dosa besar laptop modern adalah komponen yang disolder mati. Untungnya, Axioo Pongo 760 V2 masih memegang teguh prinsip “PC Master Race”. Dari analisa layout mainboard-nya, laptop ini menyediakan:
Di sektor ini, Axioo cukup dermawan. Keberadaan port LAN (RJ45) adalah wajib hukumnya bagi gamer kompetitif yang anti-lag. USB Type-C, HDMI, dan slot USB Type-A yang cukup banyak memastikan Anda tidak perlu ribet membawa dongle kemana-mana. Penempatan port di sisi kiri, kanan, dan belakang biasanya dioptimalkan agar kabel tidak mengganggu pergerakan mouse. Sebuah detail kecil, namun krusial.
Anda juga bisa membandingkan fitur konektivitas ini dengan gadget lain di kategori Gadget Tekno kami untuk melihat di mana posisi Axioo dibanding kompetitor.
Jangan berharap banyak di sini. Kapasitas 54Wh untuk menenagai i7 seri H dan RTX 4060 ibarat memberi minum gajah dengan gelas sloki. Tanpa dicolok ke listrik, jangan harap bisa gaming lebih dari 1 jam dengan performa maksimal. Ini bukan cacat produk, melainkan hukum fisika laptop gaming performa tinggi. Laptop ini ditakdirkan untuk menjadi desktop replacement yang jarang jauh dari stopkontak.
Siapa yang harus waspada dengan kehadiran Axioo Pongo 760 V2? Jelas seri budget gaming dari brand besar:
Informasi lebih lanjut mengenai posisi pasar Pongo 760 V2 juga dibahas oleh Terra.co.id, yang menyoroti keunggulan prosesornya.
Dengan spek tinggi di bodi 15 inci, panas adalah keniscayaan. Namun, sistem pendingin dual fan Axioo biasanya cukup agresif. Suhu CPU mungkin menyentuh 85-90°C saat full load, yang masih dalam batas aman operasional, asalkan sirkulasi udara tidak tertutup.
Bisa. Laptop ini biasanya datang dengan Windows 11 Home, namun hardware-nya mendukung penuh fitur Pro jika Anda ingin upgrade lisensi.
Dalam skenario gaming nyata, perbedaan FPS antara DDR4 dan DDR5 di resolusi 1080p dengan GPU kelas menengah seperti RTX 4060 sangatlah tipis, seringkali tidak terasa. Jadi, ini bukan deal-breaker.
Axioo Pongo 760 V2 adalah bukti bahwa brand lokal sudah tidak lagi sekadar menjadi alternatif “kaum mendang-mending”. Ia hadir sebagai penantang serius. Jika Anda adalah gamer pragmatis yang tidak peduli dengan gengsi logo apel atau alien di punggung laptop, dan lebih mementingkan raw performance serta kualitas layar yang akurat, laptop ini adalah no-brainer.
Apakah ada kompromi? Tentu, di sisi build quality dan audio. Tapi hei, dengan uang yang Anda hemat, Anda bisa membeli headset gaming kelas atas dan mouse wireless premium. Analisa saya? Laptop ini “gacor” parah untuk harganya.