Lupakan ‘Double Diamond’ yang Kaku: Mengapa Metode ‘Lean’ yang Berantakan tapi Cepat Adalah Masa Depan Desain Produk

double diamond vs lean UX

Pernahkah Anda merasa terjebak dalam fase Discovery yang tidak berujung? Di mana tim desain menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk “menemukan masalah” dan “mendefinisikan solusi” di atas kertas, sementara kompetitor Anda sudah merilis fitur baru dan mencuri pangsa pasar? Jika ya, selamat datang di realitas industri teknologi saat ini. Kita sering diajarkan bahwa proses desain yang “benar” itu harus rapi, terstruktur, dan simetris—seperti diagram Double Diamond yang legendaris itu.

Tapi, mari kita jujur sebentar. Di dunia nyata—terutama di ekosistem startup atau perusahaan yang bergerak cepat—kesempurnaan adalah musuh dari kemajuan. Seringkali, di grafisify.com, kami menemukan bahwa klien tidak butuh dokumen riset setebal 50 halaman; mereka butuh solusi yang bekerja, dan mereka butuhnya kemarin. Inilah mengapa saya, dan banyak praktisi modern lainnya, mulai meninggalkan kenyamanan Double Diamond dan beralih ke pendekatan Lean UX yang mungkin terlihat “berantakan”, tapi sangat efektif.

Dalam artikel deep-dive ini, kita akan membedah mengapa obsesi terhadap proses yang linear bisa membunuh inovasi, dan bagaimana metode Lean bisa menyelamatkan produk Anda dari “kematian akibat dokumentasi”.

Deep Dive: Menggugat Kemapanan Double Diamond

Sebelum kita “membakar” jembatan lama, mari kita pahami dulu apa yang kita tinggalkan. Double Diamond dipopulerkan oleh British Design Council pada tahun 2005. Konsepnya indah dan logis:

  • Discover (Menemukan): Riset luas untuk memahami masalah (Divergen).
  • Define (Mendefinisikan): Menyempitkan temuan menjadi satu masalah fokus (Konvergen).
  • Develop (Mengembangkan): Mencari berbagai solusi ide (Divergen).
  • Deliver (Mengirimkan): Memilih dan memoles satu solusi terbaik (Konvergen).

Terlihat sempurna, bukan? Masalahnya, model ini berasumsi bahwa kita bisa mengetahui segala sesuatu di awal. Ini adalah pola pikir Waterfall yang menyamar dalam baju desain modern. Di lapangan, linearitas ini sering kali menjadi penghambat. Anda tidak bisa “Selesai Riset” lalu “Mulai Desain”. Realitasnya, saat Anda mulai mendesain, Anda baru menyadari bahwa riset Anda salah wkwk.

Realita Pasar: Ketidakpastian adalah Raja

Dunia teknologi tidak bergerak secara linear. Perubahan terjadi dalam hitungan jam. Algoritma Google berubah, AI baru muncul (halo, ChatGPT!), atau kebiasaan user berubah drastis. Jika Anda menggunakan Double Diamond, risiko terbesarnya adalah Anda menghabiskan 3 bulan untuk membangun sesuatu yang—saat diluncurkan—sudah tidak relevan lagi.

Mengapa Metode ‘Lean’ (Ramping) Lebih Masuk Akal?

Metode Lean UX, yang diadaptasi dari prinsip Lean Manufacturing Toyota dan Lean Startup karya Eric Ries, memiliki filosofi yang berbeda: Membuang pemborosan (waste). Dalam konteks desain digital, “pemborosan” bisa berupa dokumen spesifikasi yang tidak dibaca orang, fitur yang tidak dipakai user, atau pixel-perfect mockup yang akhirnya tidak bisa di-coding oleh developer.

Alih-alih dua berlian yang kaku, Lean berbentuk siklus lingkaran: Think – Make – Check (Berpikir – Membuat – Memeriksa).

1. Fokus pada Hasil, Bukan Output (Outcomes over Outputs)

Dalam Double Diamond, tim desain sering dinilai dari “deliverables” mereka: Persona, Wireframe, Sitemap. Dalam Lean, kami tidak peduli seberapa bagus Wireframe Anda. Yang kami peduli: Apakah user behavior berubah? Apakah konversi naik? Di grafisify.com, kami selalu menekankan bahwa desain yang cantik tapi tidak menghasilkan value bisnis adalah seni murni, bukan desain produk.

2. MVP: Minimum Viable Product (Produk Layak Minimum)

Ini adalah jantung dari metode Lean. Buat versi paling sederhana dari ide Anda, lemparkan ke pasar, dan lihat apa yang terjadi. Jangan menunggu sempurna. Malu dengan versi pertama produk Anda? Itu bagus! Artinya Anda merilisnya cukup cepat.

Catatan teknis: MVP bukan berarti produk jelek atau setengah jadi (buggy). MVP adalah produk terkecil yang bisa memberikan nilai dan memungkinkan kita untuk belajar (Learn). Ini bedanya “asal jadi” dengan “sengaja dibatasi”.

3. Validasi Hipotesis Secepat Kilat

Daripada berdebat di ruang rapat selama 5 jam tentang warna tombol “Beli”, metode Lean menyarankan: “Ayo buat dua versi, A/B test, dan biarkan data yang bicara.” Ini menghilangkan ego desainer dan menggantinya dengan data faktual.

Analisis Dampak: Efisiensi vs Estetika

Beralih ke Lean bukan tanpa konsekuensi. Dampaknya sangat terasa pada budaya kerja tim produk:

  • Kolaborasi Radikal: Desainer tidak lagi bekerja di menara gading. Desainer, Developer, dan Product Manager duduk bersama sejak hari pertama. Tidak ada lagi istilah “lempar desain ke developer”.
  • Pengurangan Dokumentasi: Karena siklusnya cepat, kita tidak sempat membuat dokumentasi super detail. Prototipe di Figma atau bahkan sketsa di papan tulis seringkali sudah cukup untuk menjadi acuan coding. Ini menghemat waktu luar biasa.
  • Mentalitas “Fail Fast” (Gagal dengan Cepat): Kegagalan tidak lagi ditakuti, tapi dirayakan sebagai pembelajaran. Lebih baik gagal setelah 1 minggu kerja daripada gagal setelah 6 bulan pengembangan proyek raksasa.

Komparasi: Double Diamond vs Lean UX

Agar lebih jelas, mari kita adu kedua metodologi ini secara head-to-head. Mana yang cocok untuk kebutuhan Anda?

Aspek Double Diamond (Tradisional) Lean UX (Agile/Modern)
Fokus Utama Eksplorasi masalah & solusi mendalam Kecepatan belajar & validasi pasar
Gaya Kerja Linear, Bertahap (Step-by-step) Siklus Berulang (Iterative Loop)
Deliverables Dokumen berat, Pixel-perfect mockup Prototipe kasar, MVP, Kode nyata
Risiko Tinggi di akhir (Big Bang Launch) Tersebar kecil-kecil (Continuous Release)
Cocok Untuk Agensi, Proyek Pemerintah, Riset Akademis Startup, SaaS, Fitur baru di App yang sudah ada

Opini & Prediksi Masa Depan: Kematian Desainer “Seniman”?

Menurut pandangan saya sebagai spesialis di industri ini, masa depan desain produk tidak akan ramah bagi mereka yang hanya ingin “menggambar UI”. Dengan bangkitnya Generative AI yang mampu membuat antarmuka (UI) dalam hitungan detik, nilai jual seorang desainer bukan lagi pada kemampuan visualnya, melainkan pada kemampuan fasilitasi dan strategi.

Metode Lean akan menjadi standar mutlak. Kenapa? Karena AI mempercepat siklus Build (membuat). Apa yang dulu butuh 2 hari untuk di-desain, sekarang bisa di-generate dalam 2 menit. Ini berarti siklus Build-Measure-Learn akan berputar semakin gila cepatnya.

“Di masa depan, desainer yang sukses adalah mereka yang bisa membuang ide mereka sendiri tanpa rasa sakit hati, hanya karena data mengatakan ide itu tidak bekerja.”

Jadi, prediksi saya: Double Diamond akan tetap ada, tapi hanya sebagai kerangka berpikir (mindset) abstrak, bukan sebagai panduan proses kerja harian. Jika Anda masih ngotot minta waktu 2 minggu hanya untuk fase “Empathize” tanpa menyentuh satu pun solusi nyata, siap-siap saja ditinggal klien haha.

FAQ (Pertanyaan Umum)

1. Apakah Lean UX berarti kita tidak melakukan riset sama sekali?
Sama sekali tidak. Kita tetap riset, tapi risetnya bersifat “Just in Time”. Kita melakukan riset secukupnya untuk mengambil keputusan langkah berikutnya, bukan riset besar di awal untuk memprediksi masa depan.

2. Apakah metode ini cocok untuk pemula?
Jujur saja, ini bisa sedikit overwhelming (membingungkan) bagi pemula yang terbiasa dengan panduan langkah demi langkah. Lean membutuhkan fleksibilitas mental yang tinggi. Tapi, belajar “berantakan” sejak awal justru lebih baik daripada terjebak perfeksionisme.

3. Apa itu Pivot dalam konteks Lean?
Pivot adalah istilah keren untuk “ganti strategi”. Jika data menunjukkan produk Anda tidak laku, Anda melakukan Pivot—mengubah arah produk secara fundamental namun tetap berpijak pada visi yang sama.

4. Bagaimana meyakinkan bos/klien yang suka proses kaku?
Tunjukkan uangnya. Jelaskan bahwa dengan Lean, mereka bisa melihat hasil (produk nyata) lebih cepat dan mengurangi risiko membuang uang untuk fitur yang tidak berguna. Klien suka menghemat uang.

5. Bisakah Double Diamond dan Lean digabung?
Bisa! Banyak tim menggunakan Double Diamond untuk visi besar (Big Picture) tahunan, lalu menggunakan Lean UX untuk eksekusi mingguan (Sprints). Ini disebut model Hybrid.

6. Software apa yang wajib dikuasai untuk Lean?
Fokus pada alat kolaborasi cepat. Figma (untuk desain & prototyping), Miro/FigJam (untuk brainstorming), dan alat analitik seperti Google Analytics atau Hotjar untuk fase “Measure”.


Referensi & Sumber Berita: Artikel ini disarikan dari pengalaman lapangan dan prinsip Lean Startup oleh Eric Ries. Untuk diskusi lebih lanjut, kunjungi Grafisify.com.

Leave a Reply

You might